Review: L’oreal Tint Caresse Powder Lipstik

Beberapa waktu lalu saya blogwalking ke blognya Alodita. Terus menemukan postingan tentang L’oreal Tint Caresse Powder Lipstik. Dari situ, saya langsung tertarik sama aplikatornya yang unik, dan off course warnanya cantik banget (peony blossom).

Akhirnya pas mampir ke counternya L’oreal di Matahari – Istana Plaza, saya iseng-iseng nyoba testernya. Eh, ternyata pas diaplikasiin enak banget, halus, ringan kayak ga pake apa-apa. Akhirnya tergoda dan beli yang warna peony blossom, udah inceran dari dulu. Harganya sekitar Rp110,000. Pas mau nulisin nota, si mbak SPG nya bilang, kalau L’oreal lagi promo buy 2 get 1 free. Nah kan tergoda lagi kan, pas liat warna nudenya yang lily blosssom kok cantik banget. Duh jadi galau, saya merasa sayang aja kalo beli 3 itemnya lipstik semua. Terus kepikiran deh beli foundinya yang true match. Ya sudah, akhirnya saya beli 3 item, 2 tint caresse yang warna peony dan lily blossom, sama foundinya yang true match shade G2. Harga foundinya sekitar Rp185,000 jadi saya cukup bayar 1 tint caresse yang peony blossom sama foundinya aja. Tint caresse lily blossom sebagai freenya. yeey 😀

Penampakan  Tint Caresse yang peony blossom dan lily blossom

Kiri: Peony Blossom, Kanan : Lily Blossom

Kiri: Peony Blossom, Kanan : Lily Blossom

Sekilas warna kemasannya hampir mirip peachy gitu, tapi di bagian badannyanya ada tulisannya kok. Kalau dibuka  aplikatornya mirip-mirip beauty blender mini gitu, ini sih menurut saya yang bikin beda dengan lipstik lain, jadinya lebih rata kalau diaplikasikan.

Atas : peony blossom, bawah : lily blossom

Atas : peony blossom, bawah : lily blossom

Nah kalo di aplikatornya kelihatan beda, peony itu lebih kuat hint peach nya, sedangkan untuk lily lebih nude, lebih muda gitu. Kalau diperhatikan, bagian yang mirip beauty blendernya itu cuma aplikator aja, sedangkan produknya ada di dalam tutupnya

photo1123437477994014797

Atas : Lily Blossom, Bawah: Peony Blossom

Hasil swatches ditangan, cuma dengan sekali oles, pigmentasinya cukup baik. Cuma kalo merasa kurang, maka aplikatornya tinggal dicolek lagi ke tutupnya.

Swatches di tangan. Atas: Lily Blossom, Bawah : Peony Blossom

Swatches di tangan. Atas: Lily Blossom, Bawah : Peony Blossom

 

Kanan: Peony Blossom, Kiri: Lily Blossom

Kanan: Peony Blossom, Kiri: Lily Blossom

Seperti di awal saya bilang, pas dipakenya bener-bener super ringan, kayak ga pake lipstik dan natural. Finishnya matte. Untuk peony dan lily blossom ini warnanya cocok banget dipake sehari-hari, cuma di skin tone saya, yang lily blossom ini nyaris ga keliatan pake lipstik, pucet jadinya. Buat saya sih, lebih wearable yang peony, cinta banget pokoknya sama warnanya, peachnya natural. Nah yang lily ini saya tetep suka pake kok, saya biasanya pake buat ombre lips ala-ala korea gitu, bibir saya kan aslinya punya garis hitam dipinggirannya, jadi kalo pake ombre lips, kelihatan banget si garis hitamnya. Buat nutupin si garis hitam ini, lily blossom bagus banget. Jadi awalnya pake lily blossom diseluruh bagian bibir, kemudian buat ditengahnya baru deh ditambahkan lipstik lain warna ngejreng, kayak fuschia atau merah. Itu serius bagus banget jadinya.

Buat ketahanannya, so-so sih, jadi disebut transfer proof banget, ya engga, soalnya lipstik ini masih nempel di sedotan dan gelas, ilang kalo dipake makan berminyak, walaupun ningalin stain sih. Tapi buat saya sih gak apa-apa banget, karena lipstiknya tetep buildable, dan sama sekali ga cracking. Cuma, tetep karena dia soft matte gitu dan powdery, jadi pastikan bibirnya dalam kondisi baik dulu, pake scrub bibir buat ngilangin kulit mati dan jangan lupa lip balm sebelumnya. 🙂

Advertisements

Review : Catrice Prime and Fine Pore Refining Anti-Shine Base

Beberapa bulan terakhir, saya lagi keranjingan sama make up, padahal jarang pakai make up yang berat tapi entah kenapa sekarang jadi sering tergoda lihat review-review tentang make up baik di youtube maupun blog.  Sehubungan dengan hal tersebut pas kemarin saya jalan-jalan ke ciwalk dan seperti biasa menengok ke guardian. Saya nemuin shelf Catrice (Catrice adalah brand kosmetik asal Jerman). Saya personal pernah denger merk ini dari beberapa beauty blogger yang katanya sih bagus tapi harganya cukup terjangkau. That’s true. Liat rangkaian produk-produknya yang berjajar aja bikin saya ngiler berat, rasanya pengen beli aja semua, harganya cukup terjangkau kayaknya yang paling mahal cuma foundie nya aja yang sekitar 120ribuan.

Setelah mengingat, menimbang, dan memutuskan, akhirnya saya memilih satu produk yang akan saya beli yaitu Catrice Prime and Fine Pore Refining Anti-Shine Base. Beginilah penampakannya.

Catrice Prime and Fine Pore Refining Anti-Shine Base

Catrice Prime and Fine Pore Refining Anti-Shine Base

Ukurannya cukup travel friendly, dan banyaknya 30ml. Primer ini sebagai base make up diklaim dapat menyamarkan pori dan oil free which is bagus buat yang kulitnya berminyak. Di kemasannya juga tercantum expirednya yang mana sekitar 3 tahun dari pembuatan, lumayan lama ya.

img_6500

img_6501

Harga produk ini terbilang terjangkau dibanding produk serupa lainnya, saya beli sekitar 72rb. Dari sananya memang ga ada boxnya, menurut beuaty blogger luar yang pernah saya baca sih, katanya primer ini tanpa silikon. Pengalaman saya, dengan kondisi kulit saya yang normal to oily, primer ini cukup cepat meresap ke kulit, dan ringan saat dipakai. Cuma untuk menyamarkan pori, hmmm pori-pori saya masih cukup kelihatan meskipun jadi lebih baik sih. Untuk menahan minyak, primer ini cukup menahan minyak di kulit saya, dan bikin make up saya awet. Affordable lah dengan harganya yang murah meriah.  Saya cukup impresif dengan produk ini.

Next time ke guardian lagi, saya pengen coba produk catrice lainnya, seperti bronzer dan highlighternya. 😀

I am Dyslexia

dyslexia-bicultural-mom

gambar diambil dari : http://www.biculturalmom.com/

Saya terlahir dengan normal pada usia kandungan Ibu yang cukup bulan. Perkembangan saya pun normal tidak ada yang menjadi notifikasi bagi orang tua saya. Justru Ibu saya merasa takjub saat usia 4 tahun saya sudah bisa membaca. Guru TK bilang, saya sering protes jika diminta membaca, karena buku bacaan yang diberikan guru sudah saya baca jauh sebelum itu diajarkan. Karena sering merasa bosan saat belajar di TK, akhirnya pada usia 5 tahun Ibu mendaftarkan saya ke SD, kebetulan Nenek saya adalah guru di sekolah tersebut. Nenek bilang, saya akan menjadi anak bawang dulu aja, tidak usah mengikuti semua pelajaran, karena belum cukup usia. Tapi saya terus mengikuti semua pelajaran, bahkan prestasi terkeren saya selain juara lomba makan apel adalah ikut lomba baca cepat sampai tingkat kabupaten. 🙂

Semua berjalan biasa saja, sampai saya merasa bahwa:

Tulisan saya tidak cukup bagus dibaca orang lain.
Sering ketinggalan menulis jika di papan tulis.

Tapi saya masih menganggapnya bukan kendala, terlebih nilai-nilai saya tetap bagus, kecuali pelajaran olahraga, saya merasa lebih lambat di banding teman-teman saya.

Di kelas 3 saat belajar perkalian saya merasa cukup kesulitan menghapal times table, saya sering kebingungan menggunakan garis bilangan untuk operasi bilangan negatif, dan permasalahan matematis-matematis lain. Hal itu masih bisa diatasi berkat kerja keras orang tua di rumah yang rajin memberikan pembelajaran tambahan.

Saat SMA, tes IQ saya berada di rentang superior, namun ketika masa itu, saya sering mengalami kesulitan di pelajaran matematika. Semua masih bisa diatasi dengan belajar mati-matian saat hendak ujian, walaupun nilai matematika saya tidak pernah wah, setidaknya tetap lulus diatas KKM.

Semua berjalan normal menurut dan seingat saya.

Tapi dari kecil saya dikenal sebagai anak yang ceroboh, grasa-grusu,
Sering terjatuh jatuh, sampai selama di SMA saya sudah 3 kali urut pergelangan kaki akibat terkilir,
Luar biasa pelupa. Lupa membawa buku pelajaran sering saya alami, lupa menyimpan hp hingga hilang, lupa membawa kunci, kunci motor tertinggal di motor yang dititip di terminal bis sementara saya sudah dalam perjalanan naik bis. Lupa menyimpan barang-barang yang saya simpan sendiri, lupa menyimpan kartu parkir, pernah hilang dompert beserta isinya akibat kecerobohan saya dan lupa-lupa lain yang saya pun sudah lupa.

Semasa kuliah S1, yang menjadi catatan saya adalah, manajemen waktu, saya sering mengerjakan tugas di akhir-akhir, hehe, meskipun akhirnya selesai dan beres juga. sulit menuangkan ide kedalam tulisan khususnya dalam menyusun karya tulis ilmiah, saya sering merasa over sensitif terhadap sesuatu, sering merasa frustasi dan stress. Jika diberi motivasi maka saya akan melejit, dan tahun ke 4 saya berhasil menamatkan studi saya tepat waktu.

Saya sulit mengestimasi, uang jajan, jarak, misal ada yang tanya, jarak dari rumah saya ke rumah nenek berapa KM kira-kira? Jauh tidak? maka saya akan kelabakan membayangkannya.

Saya sering bingung arah, kanan kiri terutama. Jika ditanya mana tangan kiri dan mana tangan kanan saya bisa. Tapi jika saya dibonceng orang lain, dan saya sekaligus sebagai penunjuk arah, maka berhati-hatilah, karena apa yang saya maksud sering tidak singkron dengan apa yang saya katakan. Misal maksud hati adalah ke arah sebelah sana (re: kiri saya), tapi saya bilang “ke kanan”. Padahal maksud saya ke kiri. Kemudian pengemudi akan marah-marah saat sudah terlanjur belok kanan sementara saya bilang, “eh salah arah, ke sana harusnya”. Yang lebih fatal saya beberapa kali menyesatkan teman saya via telepon, menunjukkan arah dan walhasil teman saya kesasar T_T

Saya sering salah membuka pintu indomaret/alfamaret/atm/bank yang memiliki label dorong dan tarik, harusnya didorong jadi ditarik, atau sebaliknya.

Semua itu masih saya anggap biasa saja, sampai suatu ketika teman saya bilang sambil menegur saya akibat kecerobohan dan pelupa saya yang akut “kayaknya kamu tuh ada masalah, periksa gih ke psikolog, minta di hipnoterapi gih”. Awalnya saya bingung, dan merasa sedikit tersinggung, lah emangnya saya kenapa? saya masih waras dan baik-baik saja.

Sampai suatu saat, disaat saya melanjutkan studi saya ke S2, saya mendapat topik tentang disleksia. Pada saat itu yang saya tahu, “disleksia adalah kesulitan membaca.”, titik, itu saja. Dengan berbagai proses dan jatuh bangun mencari problem akhirnya berdasarkan arahan pembimbing saya, saya bertemu dengan Asosiasi Disleksia Indonesia, bertemu dengan dr. Tian dan dr. Purboyo belajar banyak tentang kesulitan belajar spesifik khususnya disleksia, membca literatur, mengikuti workshop, melihat secara langsung ke kelas disleksia, mengobrol kesana kemari. Wow, saya pun tercengang, disleksia bukan hanya kesulitan membaca tapi jauh lebih luas dari itu (lain kali mungkin saya akan cerita lebih banyak, secara khusus tentang disleksia). Intinya disleksia itu ada salah satu jenis kesulitan belajar spesifik pada area bahasa yang meiputi bahasa lisan, bahasa tulisan dan bahasa sosial. Disinilah mata saya mulai terbuka seterbuka bukanya, “kok ini saya banget ya”, “ya ampun, aku tuh sering kayak gitu”, Oke akhirnya pertanyaan saya selama ini terkait keanehan-keanehan saya ini terjawab sudah, I am Dyslexia. Beberapa kali ketemu dokter Tian,dan kayaknya dokter melihat keanehan-keanehan saya dan dokter pun bilang “Helen, kayaknya kamu ada genetik disleksia deh” hahaha, iya sih, saya pun ngerasa banget kayak gitu. Terus sambil bercanda saya bilang “ya udah dok, kalo udah lulus saya mau assessment ya dok”, kemudian dokter tertawa tawa “kamu mah ga usah assessment juga udah tegak diagnosisnya” 🙂

Well, saya disleksia dan Alhamdulillah saya mengenalinya saat usia saya 23 tahun. Walaupun terlalu lama dikenalinya, tapi setidaknya sekarang saya paham strategi-strategi apa saja yang harus saya lakukan dengan keadaan saya, mungkin mendapat topik thesis ini pun adalah inilah hikmahnya. Untuk masa depan, kalau saya punya anak disleksia setidaknya amunisinya sedang saya persiapkan sekarang.

Masih panjang sebenarnya yang ingin saya sampaikan, tapi agar tidak terasa bosan, lain kali akan saya lanjutkan sharing tentang disleksianya ya..

Gogogo para dyslexic, kita tidak bodoh, we are all born special. Tetap semangat belajar 🙂

 

Cerita di Malam Takbir

Idul fitri memang sudah lewat sebulan setengah yang lalu kira-kira. Dan dari dulu kelupaan dan kemalesan terus mau posting cerita disini hehehe

Di hari terakhir berpuasa, tidak ada yang spesial di rumah saya, hanya beberapa persiapan kecil, beres-beres rumah. Saya agak heran di rumah tidak ada hiruk pikuk memasak rendang, seperti lebaran-lebaran lalu. Ternyata segala permasakan dilakukan di rumah uwa, kakaknya ayah. Saya pun dimintai tolong untuk bantu-bantu nyiapin ngblenderin bumbu rendang, ngisi ketupat, marut kelapa. Hari itu saya memutuskan resolusi lebaran berikutnya adalah bisa masak rendang untuk sekeluarga sendiri, gak pake bumbu instan aaamiin 😀

Hari berlanjut, buka puasa tiba, pemerintah telah mengumumkan lebaran jatuh di hari esok. Adzan isya berkumandang, saya, ibu dan adik-adik memilih menyemarakan takbir di rumah sembari membereskan kue-kue untuk hantaran, sementara ayah pergi ke mesjid untuk sholat isya berjamaah dan takbiran disana. Sebetulnya sampai disini semua terasa seperti malam lebaran-malam lebaran yang selalu saya lewati setiap tahun. Tetapi ceritanya dimulai pada saat tiba-tiba ayah datang mencari Ibu, tergesa-gesa dengan suara khawatir, mencari apa saja yang seyogyanya layak untuk merayakan lebaran dan yang bisa dibawa. Aku agak heran dan bertanya pada ayah. Ayah bercerita.

Sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, ayah selalu melihat seorang pria berusia 40an di mesjid, sering bertemu di jam-jam sholat berjamaah, dan itikaf sampai subuh. Tidak ada yang aneh, karena beberapa orang pun banyak yang melakukan hal yang sama. yang anehnya, bapak tersebut jarang pulang, hampir setiap hari berdiam di mesjid, kadang terlihat sedang membaca Quran dan berdzikir. Pada saat waktu berbuka setelah di bagi takjil oleh pengurus DKM, ba’da magrib biasanya orang-orang kembali ke rumahnya dan makan di rumah masing-masing bersama keluarga.Tapi tidak dengan bapak tersebut. Di suatu hari ayah merasa heran, dan bertanya “pak, engga pulang?”

dia jawab sambil tersenyum “engga pak”

“makan dulu pak” sahut ayah saya.

Bapak itu cuma mengangguk sambil tersenyum mengiyakan. Ayah awalnya tidak merasa curiga apapun, dan ternyata setelah di konfirmasi ke pengurus DKM lain, bapak itu tidak pernah mau makan ketika buka puasa, hanya makan dan minum dari takjil yang dibagikan DKM. Pernah suatu hari ayah dan beberapa bapak lain menawari makan bersama, tapi selalu ditolak oleh bapak itu.

Di hari-hari terakhir menjelang lebaran, bapak tersebut menawari pijat ke bapak-bapak yang biasa jamaah di mesjid. Ayah menerima penawarannya, sambil dipijit sambil mengobrol, katanya profesi bapak itu adalah tukang pijat, dan pada musim mudik biasanya dia kesini untuk mijat orang-orang yang sedang istirahat mudik. Tidak ada pembicaraan pribadi lainnya selain pijat memijat. Setelah selesai memijat ayah dan para bapak lain membayar jasanya. dan haripun berlanjut, ba’da magrib nampak dia siap-siap hendak pergi. heran, akhirnya ayah bertanya

“mau pulang pak?”

“iya pak, istri saya sedang sakit, saya mau pulang dulu pak”

“oh iya, hati-hati pak semoga lekas sembuh istrinya, pulangnya kemana pak?”

“ke Kadipaten pak, aamiin makasih pak” jawab bapak itu

Jarak rumah saya ke kadipaten kurang lebih 20 menit, ya lumayan cukup jauh. Besoknya bapak itu kembali dan rutinitasnya kembali seperti biasa. Sampai pada malam takbir ini, bapak itu masih ada di mesjid, dan terdiam dengan wajah kebingungan. Ayahpun menanyakan apakah malam ini dia mudik ke kampung halaman atau tidak. Bapak itu tiba-tiba berkaca-kaca. dia mulai bercerita kepada ayah saya.

Dia adalah tukang pijat, dan istrinya seorang guru madrasah honorer dengan gaji tidak seberapa. Setiap lebaran bapak tesebut selalu ada di mesjid dekat rumah saya karena mesjid tersebut sangat strategis, dilalui pemudik yang mengambi jalur pantura, biasanya pemudik istirahat disitu, dan bapak itu menawarkan jasa pijat. Alhamdulillah biasanya rejeki lancar saat arus mudik lebaran. Sehingga di malam takbir dia bisa pulang membawakan kue dan beberapa helai pakaian muslim untuk anak dan istrinya. Beberapa hari lalu istrinya sakit, dia bertahan di mesjid untuk mencari rejeki, berharap mendapat rejeki yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya.  Tetapi tahun ini berbeda, ruas jalur tol cipali sudah dibuka, pemudik memilih beralih ke tol cipali, jalur pantura tepatnya di jalan dekat rumah saya sepi pemudik, saya pun merasakan kelengangan itu di tahun ini. Bapak pemijat itu kehilangan pelanggannya, kadang-kadang sehari tidak dapat apa-apa. Itulah kenapa dia memilih tidak pulang, agar hemat diongkos, dia mengandalkan takjil dan makan sahur yang disediakan pengurus DKM. Sekali pulang karena istrinya sakit dan membawakan uang hasil pijatnya selama beberapa hari terakhir untuk membeli obat. Dia bertahan terus sampai malam takbir ini. Namun kegundahan melanda hatinya, ia sedih karena harus pulang dengan tangan kosong, katanya ia sedih tidak bisa seperti bapak lain yang membawakan makanan dan kue-kue menjelang lebaran kepada anak istrinya, dan yang paling ia takut ia akan sangat bersedih apabila melihat anak istrinya sedih. Dia bilang dia awalnya terpikir mau minta bagian zakat fitrah dari mesjid, tapi hati nuraninya menolak, dia merasa tidak pantas dan masih banyak yang lebih membutuhkan sehingga dia hanya terduduk kebingungan disitu. Bapak itu menangis tersedu-sedu.

Ayah saya terhenyak dan ikut berkaca-kaca, dan akhirnya cuma bisa bilang “bapak tunggu dulu disini ya, saya pulang dulu, nanti saya balik lagi”.

Saya, adik-adik dan ibu saya mendengarkan cerita itu pun ikut terharu sedih. Disaat beberapa yang mengeluh karena tidak membeli baju lebaran, atau merasa baju lebarannya kurang, ternyata di luar sana masih ada seorang bapak yang mati-matian berusaha ingin membahagiakan anak dan istrinya, ada seorang bapak yang rela menghemat pengeluaran makannya dan bermalam di mesjid. Ada seorang bapak yang kebingungan di malam takbir. Ah,semoga Allah selalu melindungi bapak itu, dan semoga Allah mencukupkan segala rejekinya….

Mungkin adakalanya kita harus berhenti sejenak dan menengok pada sekitar kita. Berhenti mengeluh, mengutuki dan mulai peka pada orang sekitar kita. Mungkin disitu ada cerita yang akan membuat kita lebih peduli dan mau lebih bersyukur akan hidup kita :’)

Timbul Tenggelam

Timbul dan tenggelam…

Bikin judulnya aja perlu waktu satu jam, hahaa

hallo blog world, lama banget gak nulis apa-apa disini. Bukan maksud sok sibuk, tapi emang seiring dengan bertambahnya umur, semakin minim juga nyampah-nyampah di sosial media. Bukan pencitraan sih, tapi emang lagi males aja. tapi kadang-kadang kangen juga sih.. aish segini aja udah keliatan random hehee

Banyak yang mau diceritain sih sebenernya, coba deh satu-satu:

  1. Kuliah: yup, ini kegiatan utama saya selama setahun setengah ini, omg I think ,this is the good time to graduate, but… Ya, I still need more time, to learn and finish my final task THESIS 😐 6 bulan terakhir, kuliah adalah kegiatan yang paling sering bikin galau setengah mati, nangis-nangis manja, uring-uringan sampe nafsu makan  yang terus meningkat dan berimbas pada timbangan yang semakin gerak-gerak ke kanan, mayday mayday I need much help 😦
  2. I have not lost my weight anyway… akibat stress nomer 1, saya jadi suka ngemil, suka makan kue-kue manis, macam martabak, roti canai, kue cubit green te (bahkan nulis ini sambil ngiler :p )
  3. Pekerjaan: saya resign dari tempat kerja saya sebelumnya, walaupun such a lovely place, but I have to choose between kuliah dan kerja. namun karena sering ngerasa jobless, akhirnya saya coba part time ngajar di sekolah, dan ternyata sama saja, keteteran, ya nampaknya semester ini emang harusnya fokus sama tesis aja kali ya.. padahal I love to teach banget 😦 eh tapi ada rencana berbisnis juga sih semester ini, hitung-hitung refreshing kala jenuh sama tesis. mudah-mudahan lancar deh 😀
  4. Dunia sosial: Semenjak resign dan menjadi mahasiswa angkatan tua di kampus, makin kepisah sama temen-temen. dan jadinya sering ngerasa kesepian juga sih, untung sih masih ada yang masih suka nemenin kemana-mana :p
  5. Lagi seneng-senengnya mainan make-up, kalo kata nura sih “ngebencong”, coba-coba belajar make up artist secara otodidak, haha meskipun kalo pergi kemana-mana masih belum berani makeupan yang berat-berat.
  6. ngdubsmash terus
  7. Mulai rajin masak yang agak berkualitas, demi misi penurunan berat badan dan menjadi calon istri idaman wekekeke ~
  8. I love tomato so much, sehari bisa sekilo abis deh kayaknya
  9. Makin sering kangen rumah, pengen pulang, curhat sama ortu, becandaan sama adik-adik..
  10. Merancang masa depan sama…… (sinyal hilang)

eh kok ngepas sepuluh.. good job, udah lumayan nulisnya banyakan dikit.

Yang paling bikin sedih sih emang, lagi sering banget ngerasa khawatir sama kuliah, kadang-kadang suka ngerasa kehilangan jati diri, tapi ya dicoba dijalani aja mudah-mudahan niat yang baik berbuah manis. Selain itu, ngerasa kalo ramadhan di rantau selalu berbeda dengan ramadhan di kampung halaman, baik dari motivasi dan konsumsi. Kemaren kebetulan bisa balik 2 hari rasanya emejing banget (ngetik sambil kangen rumah T_T ).

I know I’m not perfect anyway, but I hope, I can find my right way.. to be better person..

Kayaknya nulisnya segitu dulu aja takut sahurnya kesiangan, nanti disambung lagi sama cerita yang jauh lebih informatif, semoga huehe

Selamat menunaikan ibadah puasa 🙂

 

With much love

 

Helena…

Welcome 2015

Ucapan selamat di hari pertama tahun 2015 banyak tertulis di sosial media, tentu saja beserta harapan-harapan dan resolusi yang dipanjatkan. Ada pula beberapa teman yang memberikan informasi tentang larangan merayakan tahun baru.

Saya bukan tipe orang yang selalu merayakan tahun baru, kadang berlalu seperti biasanya, tapi kadang saat malam tahun baru, orang-orang merayakan keluar rumah, saya sibuk menulis blog, sebagai refleksi apa yang sudah di lakukan di tahun ini dan menuliskan harapan ditahun yang akan datang. Entah kenapa tahun ini agak sedikit berbeda, tidak membuat list seperti tahun-tahun sebelumnya. Harapan saya hanya satu, saya hanya berharap di tahun yang akan datang saya menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan semuanya berjalan lebih baik lagi.

Tadi, saat saya membeli makan malam keluar bersama adik saya, saya menyadari satu hal. Begitu banyak hal yang bisa membuat kita termotivasi untuk lebih baik lagi menjalani hidup. Tidak perlu repot-repot mendatangi motivator atau membaca jika tak ada waktu. Cukup dengan berhenti memenjarakan diri di dalam ruangan, dan mulailah keluar dari pintu yang membelenggu diri sendiri setiap hari. Keluar, menikmati udara segar, dan memperhatikan ada apa disekeliling, disitu barangkali kita bisa menemukan…

Sabar dapat dipelajari dari pedagang yang dagangannya tidak terlalu laku dibandingkan pedagang disebelah-sebelahnya. Disitu selain kita belajar sabar, kita juga belajar bahwa rezeki sudah diatur adanya oleh sang pencipta.

Arti berbagi bisa didapatkan dari bapak tetangga yang menitipkan uang untuk disampaikan pada anaknya yang beberapa waktu lalu jadi korban banjir. Kemudian saat disampaikan, anaknya dengan tulus menolak, malah sebaliknya menitipkan sejumlah uang untuk diberikan pada bapak dan ibunya. “tolong ya teh, dikembalikan aja ke bapak, justru saya yang mau titip uang buat bapak sama ibu, mereka jauh lebih membutuhkan daripada saya”. Dia bilang uangnya tidak seberapa, namun saya tahu ketulusan tidak dapat dihargai oleh uang sejumlah apapun.

Ada banyak lagi pelajaran-pelajaran hidup yang bisa diambil dari lingkungan. Kadang saya merasa malu dan teramat malu dengan keadaan yang masih sering mengeluh. Hitungan tahun boleh terus berganti, begitu juga hati. Ini bukan masalah tahun yang baru, namun perkara hati yang harus selalu diperbaharui agar senantiasa menjadi kaya.

Semoga kita semua selalu menjadi manusia yang terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi…

Menata Hidup Kembali

Dari beberapa bulan yang lalu, saya banyak berpikir, merenung dan menimbang. Kebimbangan-kebimbangan yang menerpa, gundah gulana, kekurang nyamanan terhadap keberadaan diri. Berkali bercerita pada sahabat, mereka selalu setia mendengar dan mendukung yang terbaik. Saya diminta berpikir, istikharah dan menyerahkan segalanya pada Allah.

Suatu malam di penghujung Ramadhan, saya mengobrol dengan salah satu sahabat, kala itu hati saya resah. Saya bertanya, apakah dia hampa? apakah pernah mengalami rasa sepi yang mendalam?, dia bilang, semua proses ini akan berat diawal namun pada selanjutnya membuat dia kuat, hikmahnya, Tuhan terasa lebih dekat, semakin dekat. Dia bilang, agar saya segera mempertimbangkan dan memutuskan, jangan sampai dalam pikiran terus berkecamuk dan membuat semuanya menjadi semakin buruk.

Saya berpikir dan berpikir, memohon petunjuk, pada akhirnya setelah idul fitri saya mempunyai ketetapan hati untuk memutuskan perkara yang selama beberapa bulan ini terus berkecamuk dalam pikiran. Iya, akhirnya kesepakatan untuk melepaskan segalanya, mengikhlaskan, dan memaafkan. Alhamdulillah, tidak ada dendam, tidak ada luka yang berlebih, tidak ada caci maki, semua berjalan dengan damai dan pikiran terbuka.

Jikalau dengan kebersamaan tidak menentramkan hati, untuk apa terus dipaksakan untuk bersama-sama. Jikalau dengan kebersamaan akan memunculkan banyak kesedihan, untuk apa terus dipertahankan. Lebih baik dilepaskan, dikhlaskan, sehingga masing-masing dari kita saling melangkah ke arah yang baik menurut sudut pandang kita, untuk mencapai kebahagiaan yang diharapkan.

Proses ini, Insya Allah akan lebih mendewasakan lagi. Insya Allah berakhir dengan indah. Sabar dalam penantian, sabar dalam ikhtiar. Usaha tidak pernah mengecewakan hasil. Mari menata hidup kembali dan terus memperbaiki diri.